Kamis, 25 Maret 2010

DESAIN INTERIOR RUANG PERPUSTAKAAN


1. Pendahuluan

Dalam membangun gedung perpustakaan, seringkali arsitek kurang memperhatikan unsur fungsi gedung tersebut. Mereka lebih bangga memperhatikan unsur estetikanya daripada unsur fungsionalnya. Hal ini terjadi karena beberapa kemungkinan. Kemungkinan pertama, pimpinan proyek atau pimpinan suatu lembaga tidak mengajak pihak pengelola perpustakaan dalam mendasin sisi luar dan interiornya. Kemungkinan kedua tidak ada komunikasi antara arsitek gedung tersebut dengan para pustakawan yang ada. Kemungkinan ketiga para pustakawan sendiri yang tidak peduli fungsi interior dalam membangun gedung perpustakaan.
Ketika pimpinan proyek atau pimpinan lembaga tidak mengajak pengelola perpustakaan untuk bersama-sama mendesain interior, itu bermakna bahwa pimpinan belum menganggap pengelola (pustakawan) mampu diberi tugas untuk itu atau ektrimnya pustakawan tidak perlu diajak berbagi ide (sharing ideas) dalam mendesain gedung tempat mereka bekerja.
Tidak ada komunikasi antara arsitek dengan pengelola (pustakawan) berdampak bahwa gedung perpustakaan hanya tampak bagus dari luar namun tidak fungsional, artinya gedung perpustakaan tersebut tidak bisa memenuhi fungsinya sebagai perpustakaan. Dan ketidakpedulian pustakawan mengenai desain interior ini berakibat desain interior terkesampingkan oleh arsitek sebab seringkali arsitek lebih mengutamakan estetika dan kemegahan gedung.

Fakta yang sering dihadapi di lapangan seringkali pustakawan dibuat repot ketika harus mendesain interior gedung perpustakaan, karena mereka tidak diajak bermusyawarah pada awal pembangunan gedung perpustaaan namun ketika gedung selesai mereka harus mendesain ruang sesuai dengan ilmu perpustakaan. Akhirnya pustakawan hanya bisa memanfaatkan yang ada. Konsidi ini tentu jauh dari ideal suatu gedung perpustakaan. Persoalan desain interior ini sebenarnya sudah muncul cukup lama dalam dunia perpustakaan. Dalam sejarah, seperti dikutip dalam International Encyclopedia of Library and Information Science (1997: 260) bahwa Michael Angelolah yang pertama kali mengompromikan antara estetika/keindahan dan fungsi desain interior gedung perpustakaan. Hasilnya adalah perpustakaan Liorentine di Florence, Italia, yang dari sisi luar sangat megah dan indah, dan dari dalampun terasa nyaman karena aspek fungsi gedung sangat diperhatikan. Usaha kompromi antara estetika dan fungsi desain interior gedung perpustakaan selanjutnya semakin gencar setelah perang dunia kedua sampai sekarang. Maka sekarang sudah banyak ruang perpustakaan didesain tidak seperti perpustakaan dulu yang terlihat kaku, dengan penempatan perabot yang lebih fleksibel, pencahayaan yang lebih menarik serta tambahan ornamen lain yang membuat interior ruang perpustakaan lebih menarik. Keadaan ini secara psikologis akan membuat pemakai merasa nyaman berada dalam perpustakaan dalam waktu yang lama. Ada sebagian orang berpendapat bahwa ruang perpustakaan bukan ruang yang mati yang hanya ada kesunyian. Namun harus ada ruang yang diperuntukan bagi pemakainya agar bisa diskusi atau sekedar ”sharing ideas” dengan pengunjung lainnya. Keadaan ini sungguh akan mengubah wajah perpustakaan dari wajahnya yang anker menjadi wajah yang menyenangkan bagi pemakainya. Usaha ini perlu dilakukan oleh pengelola perpustakaan agar mampu menarik para pemakai jasanya untuk menggunakan fasilitas yang dipunyai oleh perpustakaan (Harder, 1996: 12).


2. Pembangunan Gedung Perpustakaan (sebuah teori).

Sebelum membangun gedung perpustakaan perlu ada perencanaan yang matang agar nantinya bisa menciptakan tempat kerja yang nyaman bagi pegawai maupun pemakai perpustakaan. Untuk itu perlu dipikirkan matang-matang mengenai sistem layanan yang akan dipakai dalam perpustakaan bersangkutan, apakah terbuka atau tertutup. Pemilihan ini akan berimplikasi pada jalan masuk dan keluar gedung serta pemberian jendela gedung. (Sulistyo-Basuki, 1993: 303). Detail gedung seperti ini akan bisa dilaksanakan dengan mudah bila ada komunikasi aktif antara pustakawan dengan arsitek gedung. Maka sedari awal, Sulistyo Basuki (1993:306) mengusulkan harus ada panitia pembangunan gedung yang terdiri atas:

  1. Arsitek
  2. Pustakawan
  3. Konsultan Pustakawan
  4. Desainer interior (interior designer)
  5. Kepala lembaga yang membawahi perpustakaan seperti rektor atau pembantu rektor.
  6. Unit lain dari bagian administrasi dan keuangan

Tidak hanya itu, arsitek yang dipilihpun seharusnya bukan hanya arsitek yang bagus tapi arsitek yang punya banyak pengalaman dalam merancang gedung perpustakaan, sehingga dapat diandalkan karena dia bertanggung jawab akan gaya dan estetika serta fungsi gedung tersebut. Bahkan di luar negeri seperti Inggris punya arsitek yang punya otoritatif dalam hal rancang bangun gedung perpustakaan, yaitu . Faulkner-Brown (Thomson: 208).

Ada beberapa prinsip yang yang perlu diperhatikan dalam arsitektur gedung perpustakaan. Gedung perpustakaan perlu ditata sesuai kebutuhan dengan tetap mengindahkan prinsip-prinsip arsitektur. Penataan ini dimaksudkan:

  1. Memperoleh efektifitas kegiatan dan efisiensi waktu, tenaga dan anggaran.
  2. Menciptakan lingkungan yang nyaman suara, nyaman cahaya, nyaman udara, dan nyaman warna.
  3. Meningkatkan kualitas pelayanan
  4. Meningkatkan kinerja petugas perpustakaan.

Ruang perpustakaan akan nyaman bagi pemakai dan petugas bila ditata dengan memperhatikan fungsi, keindahan, dan keharmonisan ruang. Dengan penataan yang baik akan memberikan kepuasan fisik dan psikis bagi penghuninya. (Lasa HS, 2005: 148)

3. Nilai Penting Desain Interior Ruang Perpustakaan

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001: 257) memberi batasan desain dengan kerangka bentuk; rancangan. Sedang Interior adalah bagian dalam gedung (ruang dsb) di dalam ruang gedung dsb (2001: 438). Ching (1996: 46) mendefinisikan desain interior adalah merencanakan, menata dan merencanakan ruang interior dalam bangunan. Adapun tujuannya adalah untuk memperbaiki fungsi, memperkaya nilai estetika dan meningkatkan aspek psikologis dari ruang interior. Ada temuan dari menarik survai yang dilakukan oleh Rainathami (2002:60) mengenai hubungan antara kondisi fisik gedung dan desain interior ruang perpustakaan dengan minat menggunakan jasa layanan perpustakaan. Hasilnya adalah:

a. Kondisi fisik gedung perpustakaan seperti pembagian ruangan, warna bagian luar gedung, kebersihan, dan kelengkapan fasilitas gedung seperti toilet tidak terlalu mempengaruhi minat menggunakan jasa layanan perpustakaan dibanding dengan kondisi ruang peprustakaan.

b. Kondisi ruang perpustakaan berkorelatif positif dengan minat menggunakan perpustakaan. Semakin baik kondisi ruang perpustakaan, semakin tinggi minat menggunakan jasa layanan perpustakaan. Semakin buruk kondisi ruang perpustakaan semakin rendah minat pemakai jasa layanan perpustakaan.

c. Pemilihan warna dan cahaya paling mempengaruhi minat. Semakin gelap dan suram warna ruangan, semakin enggan pemakai menggunakan jasa layanan perpustakaan. Dan warna putih adalah warna yang paling diinginkan oleh pemakai.
d. Pemilihan furnitur dan penataan ruangan, termasuk rak buku, ternyata juga mempengaruhi pemakai dalam menggunakan jasa layanan perpustakaan. Beberapa pemakai merasa punya kesan kaku dari penataan rak buku dan kursi serta meja baca yang kaku di ruang perpustakaan. Mereka merasa tertekan dan tidak betah untuk berlama-lama dalam ruangan perpustakaan dalam kondisi penataan furnitur yang kaku.

Disamping itu, ada azas-azas yang perlu diperhatikan dengan desain interior yaitu: Azas jarak, yaitu susunan tata ruang yang memungkinkan jarak pendek dalam bekerja; Azas rangkaian kerja, yaitu tata ruang yang menempatkan tenaga dan tempat alat-alat dalam rangkaian yang sejalan dengan penyelesaian pekerjaan; Azas manfaaat, yaitu tata susunan ruangan yang mempergunakan sepenuhnya ruang yang sudah ada. (Lasa HS (2005:149) Berkaiatan dengan desain interior, Rainathami (2002:63) menambakan bahwa setidaknya ada tiga elemen yang harus diperhatikan dalam hal ini, yaitu:

a. Elemen garis. Elemen ini digunakan untuk menghasilkan kesan bergerak atau menjelaskan kesan lebar atau tingi. Garis vertikal memberikan kesan lebih tingi pada suatu benda sedangkan garis horisontal memberikan kesan lebar. Perpaduan dalam penggunaan garis tersebut tentu dapat membentuk ruangan terasa lebh tinggi dan lebar. Penggunakan garis lengkung memberi kesan fleksibel. Pemilihan barang-barang yang mengandung garis lengkung yang tepat mampu menghilangkan kesan kaku pada ruangan, dan mampu membuat ruangan terasa lebih menenangkan.

b. Elemen warna dan pencahayaan. Elemen ini menempati posisi yang tidak kalah pentingnya. Dalam menentukan warna yang akan digunakan dalam ruangan perpustakaan, harus diperhatikan dampak psikologis yang dapat ditimbulkan warna. Warna kuning seringkali memberi kesan riang. Namun tdak berarti semua ruangan dicat warna kuning yang justru akan memberi kesan panas seperti matahari. Ternyata warna juga memberi dampak lebih luas. Warna gelap memberi kesan sempit sedang warna terang memberi kesan lebih luas pada ruangan

c. Elemen pembagian ruangan. Pembagian ruang ini diharapkan tidak menghalangi keleluasaan bergerak. Penataan jarak antara perlengkapan perpustakaan termasuk jarak anatara rak buku, jarak antara kursi dan meja dengan dinding. Harus ada jarak keleluasaan bergerak memilih koleksi rak buku atau bergerak diantara pembaca.

Di luar yang diusulkan oleh Rainathami, perpustakaan bisa melihat beberapa pertanyaan berikut sebagai acuan sebelum mendesain ruang perpustakaan yang kebetulan akan mengoleksi bahan-bahan digital sebagaimana ditawarkan oleh Harder (1996:14) dalam Advances in library administration and organization, yaitu: Bagaimana perpustakaan melihat ke depan dalam mendesain interior, setidaknya sepuluh tahun ke depan? Bukankan dalam kurun waktu itu akan ada perubahan?; Bagaimana solusi penerangan dalam gedung, apakah dengan dengan penerangan baur (penerangan dengan cahaya matahari dan lampu), atau dari lampu saja?; Bagaimana perpustakaan menempatkan wakil koleksinya (katalog)? Apakah cukup dengan OPAC atau tetap dilengkapi katalog kartu?; Apakah perpustakaan telah menyediakan akses katalognya secara online?; Apakah akan ada antrian pemakai di sirkulasi atau di titik layanan lainnya, atau waktu mereka browsing menggunakan katalog?; Apakah sudah saatnya ada prioritas penembahan koleksi dalam bentuk digital?; Lalu, bagaimana perpustakaan menyiapkan perabotnya mengingat akan ada penambahan pelayanan, bahan perabot, dan bahkan bahan koleksi yang tidak hanya tercetak di kemudian hari? Pertanyaan di atas diharapkan bisa mengingatkan pustakawan dalam merancang bangun gedung peprustakaan, serta memberi masukan untuk melihat perkembangan perpustakaan di masa yang akan datang.


4. Perabot Perpustakaan

Perpustakaan jarang sekali memperhatikan furnitur yang ada di ruang perpustakaan. Tidak adanya perhatian ini bukan berarti bahwa pengelola atau pustakawan tidak peduli dengan perabot yang ada dalam ruangan perpustakaan. Kasusnya hampir sama dalam mendesain ruang perpustakaan bahwa pengelola atau pustakawan tidak diajak musyawarah dalam menentukan perabot yang harus diadakan, bagaimana bentuk, warna ,tinggi, lebar, dan spesifikasi lainnya sebab pengadaan bukan wewenang dari pustakawan.
Sebenarnya tidak ada prsoalan bagi pustakawan siapa yang akan mengadakan perabot atau barang-barang lainnya di perpustakaan. Yang menjadi perhatian adalah bahwa perabot yang ada dalam perpustakaan mempunyai spesifikasi tertentu yang tidak serta merta bisa diadakan secara dadakan.Persoalan ini, ke depan, harus menjadi perhatian bagi pemegang kebijakan pengadaan perabot di perpustakaan
.

Penutup
Gedung perpustakaan untuk lingkup perpustakaan perguruan tinggi sudah termasuk cukup megah. Namun kemegahan itu tidak serta merta punya fungsi yang bagus sebagai gedung perpustakaan. Artinya unsur estetikanya lebih menonjol daripada unsur fungsinya.
Hal ini terjadi karena waktu awal pembangunannya tidak ada kerja sama antara pengelola gedung, yaitu pustakawan dengan arsiteknya. Asumsinya, pada saat itu belum ada pustakawan yang punya latar belakang ilmu perpustakaan disamping arsitek gedung tidak mecoba menggunakan pendekatan ilmu perpustakaan.
Akhirnya pengelola perpustakaan tidak bisa memaksimalkan desain interior ruangan agar ada kompromi antara estetika dan fungsi. Keadaan ini tentu harus menantang kreatifitas pengelola untuk memaksimalkan fungsi ruangan yang sudah ada menjadi ruangan yang nyaman bagi pemakainya untuk tidak mengatakan bahwa pustakawan dalam posisi tawar yang lemah dalam membangun gedung tempat mereka bekerja. Lepas dari daya tawar pustakawan yang lemah dalam membangun gedung perpustakaan, ternyata profesi pustakawan memang menuntut untuk mengetahui kajian ilmu di luar Library and Information sciences. Kajian desain interior adalah sebagai salah satu contohnya. Dan tentu masih banyak kajian ilmu lain yang harus diketahui walaupun tidak harus menjadi ahli.


Bibliografi

Harder, E. Ruth, (1996) Library automation’s effect on the interior design of California public libraries dalam Advances in library administration and organization, London: JAI Press Inc.

Ching, francis. (1996) Illutrasi desain interior, Jakrata: Airlangga.

Lasa HS. (2005) Manajemen perpustakaan, Yogyakarta: Gama Media.

Rainathami, Herika, Penataan ruang pepustakaan sebagai penunjang promosi perpustakaan perguruan tinggi dalam Sekapur sirih pendidikan perpustakaan di Indonesia 1952 – 2002: kumpulan artikel alumni dan mahasiswa program studi Ilmu Perpustakaan Program Pascasarjana FIB Universitas Indonesia, Depok: FIB, 2002.

Sulistyo-Basuki, Pengantar ilmu perpustakaan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar